[Vignette] First Meet

FIRST MEET

by, a c u

 

Starring NCT’s Mark Lee & Ten with OC’s Elora Lee & Elodie Lee || Family – College life – Slice of life || Teen – Vignette

.

.

“Berawal dari insiden di perpustakan, lalu menjadi kelompok sebuah tugas. Simple.”

.

,

Lora terhempas pelan ke atas sofa saat bungsu Lee itu menarik tangannya dan membawanya ke ruang tengah. Setelah pulangnya Ten dari rumah mereka, Lodie cepat-cepat menginterogasi si sulung. Sementara Mark, duduk manis di hadapan keduanya.

“Lora, cepat ceritakan bagaimana kaubisa kenal dengan Tenie?” tanyanya tidak sabaran.

“O-oh, sebentar, Lou,” Lora tersenyum kecil dan gemas melihat Lodie yang sudah mulai seperti detektif.

“Cepat Lora, cerita!”

Lora menyipit menatap Lodie. “Masih kecil, tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa.” Sahut Lora usil. Dan berhasil menciptakan wajah Lodie berubah kesal. “Aku hanya bergurau, Lou,” Lora menyandarkan tubuhnya ke tangan sofa sambil memeluk bantal sofa.

“Bagaimana?”

“Berawal dari insiden di perpustakan, lalu menjadi kelompok sebuah tugas. Simple,”

“Hanya itu?” Lodie memicing.

Yes.”

“Bukan sesuatu yang menggelitik perut?”

“Bukan.”

“Tidak seru.” Lodie beranjak dari sana. Merasa kisah Lora tidak menarik, ia pun meninggalkan Lora yang tertawa dan Mark yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Kau berbohong, bukan?” tanya Mark, saat Lora sedang membersihkan meja dari bungkusan cemilan dan minuman yang mereka konsumsi sejam yang lalu.

Lora hanya mengangkat bahu dan tersenyum kecil, menimbulkan keambiguanitas untuk Mark. Ia pun masuk ke area dapur.

“Aku juga penasaran, Lora. Tiga tahun tinggal di Korea, belum sekali pun kau membawa teman ke rumah. Seorang teman wanita pun bahkan tidak.” Celoteh Mark yang mengekori Lora dengan beberapa gelas di tangan.

Kini keduanya sudah berdiri bersebelahan di depan wastafel cuci piring. Mark menyenggol lengan Lora dengan sikunya. “Aku butuh ceritamu, Lora.”

“Kau sudah mendengar jawabanku, Mark.”

“Tidak puas. Kenapa kau sampai membawanya ke rumah?”

“Astaga! Apa itu tidak boleh?”

“Boleh, tapi mustahil kalau tidak ada apa-apanya kau mengajaknya ke rumah.”

“Sungguh, Mark. Kami hanya teman satu kampus juga kelompok. Dan membawanya ke rumah apa itu salah? Seharian kami sibuk dengan tugas kelompok, sampai-sampai lupa makan. Sebagai calon profiler dan detektif itu tidak mudah. Kami di hadapkan dengan kasus yang belum dipecahkan oleh kepolisian negara. Detektif dan polisi saja tidak tahu, apalagi kami yang masih berstatus calon!? Semua benar-benar membuat kami lupa akan makan. Aku hanya menunjukan kerendahan hatiku kepada seorang teman apa itu aneh?” Lora menjetikan jarinya yang basah karena selesai mencuci piring, lalu mengelapnya dengan serbet yang tergantung di samping kulkas. Sesudahnya, ia memasukan sisa makan malam mereka ke dalam kulkas.

“Apa dia calon detektif?”

“Ya, dan mencoba ikut kelas profiler. Hebat bukan?”

“Untuk dekat denganmu?”

“Tidak, Mark. Ish, kenapa kau jadi cerewet seperti Lodie. Kenapa kalau ingin tahu urusan seseorang kalian malah seperti detektif, sih? Lama-lama anak ayah Lee semuanya berkecinampungan dengan kriminalitas.”

“Bukankah itu seru? Hahahaha. Aku yakin Korea akan aman dari penjahat kalau berhadapan dengan Lodie. Hanya dengan tatapan, semua berlutut mengakui kejahatan mereka.” Mark tertawa sekadar membayangkan kalau mereka benar-benar menjadi seorang detektif dan polisi.

Ssstt, nanti dia mendengar malah kita yang berlutut padanya. Ck,”

“Bagaimana dengan insiden perpustakan?”

“Hahaha,” Lora memegang kedua bahu Mark, dan mendorongnya pelan. “Kita bicarakan lagi nanti, waktunya tidur. Jangan lupa mencuci wajahmu dan gosok gigi.” Lalu mereka berjalan mengitari konter dapur seperti kereta api.

“Ayolah, Lora.”

No,”

“Singkatnya saja,”

“Nanti, Mark.”

“Intinya saja kalau begitu,”

“Apa, sih, Mark?”

Keduanya terus berceloteh sampai mereka tiba di depan pintu kamar masing-masing.

“El,”

“Selamat malam, Mark.”

“Payah.”

Tsk,”

“Selamat malam, Princess Elodie Lee.” Teriak Mark dan Lora di depan pintu kamar Lodie dengan serentak, tak lupa dengan tawa jail mereka sebelum buru-buru masuk ke dalam kamar masing-masing dan menguncinya.

..end?..

 

No.. hehehehe

 

Insiden perpustakaan.

Lora tersenyum senang saat berhasil menemukan judul novel yang ia cari selama ini di rak perpustakaan. Sudah berkali-kali ia mencari buku itu, tapi selalu didahului mahasiswa lain yang telah meminjamnya. Otak Lora akhir-akhir ini penuh dengan kasus kriminal, dan ia bosan. Ia butuh pencerahan untuk otaknya yang tengah buntu. Maka dengan mendapat giliran meminjam novel paling ramai akhir-akhir ini sangat membahagiakan untuknya.

Tapi tiba-tiba Lora terlompat kaget saat mengambil novel itu. Ia melihat setengah wajah dari celah rak buku. Seraut wajah tampan terlihat bingung saat mendengarnya menjerit. Ia meletakkan novel itu di dadanya. Lora melihat ke sekeliling yang melihatnya heran, lalu kepada sosok pemuda di hadapannya yang masih berdiam diri melihatnya tanpa berkedip.

Setelah membungkuk minta maaf kepada penghuni perpustakaan, Lora juga membungkuk minta maaf kepada sosok pemuda itu. Lora tersenyum konyol, dan pemuda itu pun ikut tersenyum konyol.

“Maaf mengagetkanmu.” Katanya.

Lora cepat-cepat menggoyangkan tangannya. “Tidak. Kau tidak salah. Aku yang harusnya minta maaf. Hhe.” Tanpa sadar Lora meletakkan Novel itu kembali, lalu ia berjalan cepat menyusuri lorong perpustakaan. Tanpa menyadari di sisi lainnya, sosok pemuda itu mengikuti temponya yang cepat. Lora tidak mengerti kenapa jantungnya berdegup cukup kencang.

Setelah sampai di ujung lorong Lora menghentikan langkahnya. Lalu ia menempelkan telapak tangannya ke dahi dengan gerakan cepat. “Astaga—”

“Novelnya.”

Lagi-lagi Lora terlompat kaget saat sosok pemuda yang ia lihat tadi sudah berdiri di depannya dengan mengulurkan novel yang ia lupakan tadi. Lora merasa adegan ini menggelikan. Sangat menggelitik perutnya.

“Ah,” Lora tersenyum canggung dan mengambil alih buku itu. “A—aku melupakannya.” Lora mengulum bibirnya ke dalam sebentar, lalu kembali tersenyum. “Terimakasih,”

“Ten.”

“Ya?” Lora kebingungan saat pemuda itu menyebut Ten. “Eleven or … nine …?

Pemuda itu tertawa kecil. Lalu ia mengulurkan tangannya. “Maksudku, namaku Ten.”

“Ah,” Novel yang ia pegang sudah menutup setengah wajahnya, hanya terlihat mata, alis dan dahinya. Lora sedang menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu omong-omong. “I’m so sorry.”

Its okay.” Sahutnya dengan senyum manis yang masih membekas di sana.

“Elora.” Lora menyambut tangan hangat itu. Memberikan sensasi dalam aliran darahnya tiba-tiba. Cepat-cepat ia melepaskan tangannya yang nyaris berkeringat.

“Senang berkenalan denganmu,” kata Ten.

“S—sama-sama.”

“Suka novel itu juga?” tanya Ten saat mereka berjalan beriringan untuk menyerahkan buku pinjaman mereka kepada petugas perpustakaan.

“Iya, sudah lama menunggu giliran untuk membacanya. Hha.”

“Ceritanya bagus. Di luar ekspetasi pembaca.”

Uhm?” Lora mengernyitkan dahinya. Oh, oke. Lora hanya tidak menyangka kalau laki-laki juga suka membaca novel roman picisan selain majalah olahraga. Baiklah, ia akan memaksa Mark untuk menyukai novel agar dia punya teman untuk saling me-review novel tersebut.

Lora baru saja menahan senyumnya saat telinganya menangkap bisik-bisik yang menyebutkan satu nama. Lora terdiam sambil memandangi Ten.

“Ten berdampingan dengan seorang gadis.”

“Bukankah itu sudah biasa?”

“Apa mereka berkencan.”

“Bukankah dia gadis Canada itu?”

“Gadis sok pintar itu?”

Suara pelan para gadis itu bersahutan. Bisikan itu pelan, tetapi cukup untuk didengar Lora yang tak jauh dari mereka. Lora menunduk dalam-dalam meremas ujung sampul novel itu saat mendengar tawa yang terdengar mengejek itu.

“Kenapa Ten bisa dengannya? Bukankah mereka beda kelas?”

“Ya, memangnya kaupikir yang mengenali Ten cuma lingkaran kelas utama dia saja. Ini Ten. Kau saja mengikuti kelas yang diikuti Ten, tsk.”

“Dia mendengar. Sstt,” desis salah satu suara dengan panik.

Elora sedikit bersyukur kalau dirinya bukan Elodie yang mudah terbakar emosi. Bersyukur ia masih bisa menahan diri untuk tidak menampar para gadis yang hanya bisa nyinyir di belakangnya. Lora kembali tersenyum lebar—kepada Ten. “Sepertinya aku akan berbagi keluh kesah isi novel ini padamu. Aku tidak punya teman untuk me-review setiap novel yang selesai kubaca, kedua adikku tidak menyukai novel. Tsk, sekali lagi, terimakasih, Ten. Karena sudah menyempatkan diri untuk memberikan novel ini padaku.” kata Lora santai. Sangat santai, seolah ia sudah kenal dengan Ten begitu lama.

Berbeda dengan Ten, pemuda itu malah meringis kecil. Memberikan senyum kecut dengan rasa bersalah. “Maaf,”

“Lupakan saja, mereka tidak penting untuk diladeni. Aku permisi dulu.” Lora mengangkat novelnya ke udara dan membagikan cengiran tulus, lalu keluar dari perpustakaan.

.
.

…kkeeeuuuttt…

koak ... koak ... koak

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s